Selasa, 04 Desember 2012

Masjid Jami At Taqwa Kabupaten Ketapang



     Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Matan V adalah Masjid Jami. Awalnya masjid ini berada di pinggiran Sungai Pawan, Kampung Kauman. Namun karena abrasi dipindahkan ke lokasi lain dan dan berganti nama menjadi Masjid At Taqwa. Masjid Jami  asal Kerajaan Matan itu kini hanya menyisakan sebatang tiang yang  tetap dilestarikan.
     BAGI masyarakat Kota Ketapang, Masjid At Taqwa di Kampung Kaum sudah tidak asing lagi. Masjid ini merupakan  salah satu peninggalan bersejarah Kerajan Matan. Semula masjid At Taqwa bernama Masjid Jami yang terletak persis di pinggiran Sungai Pawan. Namun atas prakarsa seorang tokoh agama, Mualim Haji Muhammad Ali Usman, dilakukan pemindahan ke lokasi yang aman dari abrasi. Pemindahan ini juga atas pertimbangan daya tampung masjid yang sudah tidak memadai. Pemindahan Masjid Jami sekaligus pergantian nama menjadi Masjid At Taqwa.Pada tahun 1950 M, Haji Muhammad Ali Usman mengambil inisiatif membentuk Panitia Pembangunan Masjid At Taqwa. Pelaksanaan pembangunan berjalan agak tertatih-tatih, namun dengan kemauan kuat dan kerja keras serta dilandasi niat yang tulus dan ikhlas akhirnya rampunglah pekerjaan pembangunan Masjid At Taqwa.
     Kasi Pelestarian Budaya Daerah Disbudparpora Kabupaten Ketapang, Ermnasyah mengatakan salah satu hal yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut adalah peran serta masyarakat Kampung Kaum dan Kampung Banjar bekerja bergotong royong tanpa pamrih. Kadang-kadang pada malam hari saat bulan purnama dan penerangan lampu seadanya mereka lakukan apa yang dapat dikerjakan. Mereka ingin sekali cepat mewujudkan masjid yang bakal menjadi kebanggaan mereka.Ermansyah menceritakan bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 1952, pemakaian Masjid At Taqwa diresmikan dengan ditandai pemberian sebuah jam dinding dari Panitia Hari Pahlawan Kabupaten Ketapang oleh Serma Soeprapto (SOB).Ermansyah menjelaskan Masjid Jami dibangun masa pemerintahan Panembahan H Gusti Muhammad Sabran yang memerintah Kerajaan Matan V di Mulia Kerta pada tahun 1876–1908 M, tepatnya 11 Maret 1876 pusat Kerajaan Matan di Tanjung Pura pindah ke Mulia Kerta Ketapang. Dalam kurun waktu itu Gusti Muhammad Sabran mendirikan Masjid Jami  di pinggir Sungai Pawan.
      Masjid ini juga sebagai tempat melakukan siar Agama Islam dan sekaligus tempat Salat Jumaat. Ummat Islam dari Kampung Negeri Baru, Muliakerta, Arab, Tuan-Tuan, Banjar, Sungai Kinjil, Baru, Sukabaru, Mulia Baru, Kantor, Tengah, Sampit dan Kampung Kaum selalu mendatangi masjid ini pada hari Jumat. Hal ini terus berkembang hingga pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan, sebelum ditangkap Jepang. Masjid Jami pada waktu itu hanya satu-satunya masjid yang ada di Ketapang.Agama Islam pada zaman Sultan Jamaluddin makin berkembang dengan pesat. Di Tanjung Pura sendiri berdiri sebuah madrasah yang diasuh Aminullah Al Maghribi yang dikenal dengan sebutan Syech Maghribi. Para santri datang dari berbagai tempat di Kalimantan Barat, sehingga Syech Maghribi dikenal sebagai ulama besar di zaman itu.
     Saat ini Masjid At Taqwa sudah mengalami rehab total sehingga ornamen At Taqwa tempo dulu tidak tampak lagi. Yang tersisa hanya kubah, mimbar dan empat buah tiang sebagai penyangga yang berada tepat dibawah kubah masjid. Masjid At Taqwa diera tahun 80-90 an pernah populer menjadi sentral taklim wa taklum serta kegiatan dakwah dan tabligh yang dimotori seorang tokoh agama yaitu Ustad H Nawawi bin H. Ahmad dan Ustad Sudarman. Namun setelah wafatnya Ustad H Nawawi pada tahun 1999, kegiatan ini sempat vakum.Namun kini beragam aktivitas dilaksanakan di Masjid At Taqwa, seperti Taklim setiap hari tentang fadhilat amal, musyawarah harian usai Salat Subuh untuk melaksanakan program, menentukan petugas kegiatan dan kunjungan silaturrahmi dengan jiran tetangga masjid.     Hari Senin malam, musyawarah di tempat pusat kegiatan Masjid At Taqwa Kampung Kaum yang dihadiri oleh utusan setiap kecamatan dalam Wilayah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara membicarakan tentang perkembangan usaha dakwah di kecamatan masing-masing.

TIKET PESAWAT PROMO DAN TERMURAH INDONESIAKLIK DISINI 
DAFTAR AGEN TOUR DAN TRAVEL TERMURAH SEINDONESIA KLIK DISINI 
PENGEN LAPTOP ATAU GADGET MURAH KLIK DISINI 
PENGEN COBA BISNIS PULSA GRATIS KLIK DISINI 
AYO DAPAT UANG GRATIS KLIK DISINI

4 komentar:

  1. Dekat rumah nenek saye tuhh...wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang rumah neneknya gak ikut kefoto, hehe

      Hapus
  2. Masih nyimpan foto masjid Attaqwa yang lama gak? H. Nawawi itu Bapak ku..hehe

    BalasHapus