Selasa, 16 Oktober 2012

3 Fakta Unik Cokelat



     Sebagian orang biasanya menghindari mengkonsumsi cokelat. Terutama para wanita biasanya menghindari cokelat karena takut akan lonjakan kenaikan berat badan. Selain itu tak sedikit para ibu yang menjauhkan buah hatinya dari cokelat dengan alasan sakit gigi dan batuk. Tidak bisa dipungkuri kebiasaan jarang mengkonsumsi cokelat, membuat orang Indonesia menjauhkan cokelat dalam kehidupan sehari-hari.
     Meski begitu, hal ini tidak mempengaruhi kecintaan Ermey Trisniaty pada cokelat. Di saat semua orang menjauhi cokelat, ia justru membuat sebuah gerai “Dapur Cokelat”. Melalui gerai miliknya, ia mencoba menepis pemikiran negatif tentang cokelat. Gerai di kota Jakarta, Surabaya dan Makasar menjadi bukti keberhasilannya.
Cokelat Tak Jahat!
     Ayam Jago dan Superman, saat kecil kita mengenal cokelat lewat dua makanan ini. Bahkan, kita hanya mengenal cokelat hanya untuk di makan, tidak seperti saat ini. Cokelat tak hanya digunakan dalam dunia kuliner, tapi juga dunia kecantikan dan seni.
     “Flavonoid dalam cokelat baik untuk kesehatan, bahkan cokelat juga dapat memperbaiki mood,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bunda ini. Kalau ada yang mengganggap cokelat itu ‘jahat’ untuk kesehatan, itu salah besar.
     Menurutnya, manfaat cokelat sendiri juga telah banyak dikupas dalam  berbagai penelitian. Mulai dari urusan kesehatan hingga penambah gairah seksual.  Menikmati satu potong cokelat setiap harinya akan memberi umur panjang pada kaum pria, serta kualitas seksual yang baik.
     Tryptophan dan feniletilalamin adalah dua senyawa yang berfungsi meningkatkan gairah seks. Inilah yang menjadi alasan mengapa cokelat seringkali digunakan untuk kegiatan seks.
     Tryptophan adalah senyawa yang berfungsi membangun serotonin (suatu bahan kimia di otak yang terlibat dalam gairah seksual). Sedangkan feniletilalamin adalah stimulan yang terkait dengan amfetamin (suatu bahan kimia yang dilepaskan di dalam otak ketika seseorang sedang jatuh cinta).
Pahit Itu Juaranya
     Cokelat yang baik adalah cokelat yang memiliki kandungan cocoa butter tinggi sekitar 95 persen. Namun, untuk orang kita rasa ini tidak pas di lidah karena rasanya lebih pahit. Di Indonesia, cocoa butter dalam cokelat masih dalam kisaran 65 persen.
     Rasa pahit cokelat dihasilkan dari polifenol. Selain memberikan rasa pahit, polifenol juga memberikan warna yang khas pada cokelat. Proses pengolahan cokelat akan mempengaruhi kandungan polifenol di dalamnya.
     Cocoa butter paling tinggi ada dalam jenis dark chocolate.  Cokelat dalam pasaran ada tiga jenis dark chocolate, milk, dan white chocolate. Antara milk dan white chocolate kandungan cocoa butter paling rendah terdapat pada cokelat putih. Di sini campuran susunya lebih banyak dari pada milk chocolate. Tak heran jika banyak anak-anak yang menyukainya karena rasa yang milky.
Cokelat Seperti Tempe
     Taukah Anda mengapa cokelat di buatan negara tetangga lebih lezat? Rasa milky, manis dan lumeran di lidah pun  lebih terasa. Ini dikarenakan cokelat di sana sudah seperti tempe, cokelat telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kita biasa mengkonsumsi tempe.
     “Sama dengan tempe, di luar tempe terasa tak enak meski sama-sama terbuat dari kedelai. Hal ini karena mereka tak biasa mengkonsumsi tempe dalam keseharian,” jelas wanita lulusan NHI ini.
     Begitu juga dengan semua produk yang disajikan dalam gerai miliknya. Untuk menghadirkan rasa yang lezat, Ermey harus mengimpor sebagian cokelat dari luar. Cokelat lokal pun masih banyak digunakan sebagai kombinasi dalam gerai miliknya.

TIKET PESAWAT PROMO DAN TERMURAH INDONESIAKLIK DISINI 
DAFTAR AGEN TOUR DAN TRAVEL TERMURAH SEINDONESIA KLIK DISINI 
PENGEN LAPTOP ATAU GADGET MURAH KLIK DISINI 
PENGEN COBA BISNIS PULSA GRATIS KLIK DISINI 
AYO DAPAT UANG GRATIS KLIK DISINI

0 komentar:

Posting Komentar